Wednesday, 27 August 2025

CHAPTER 5 - DARI LAUT PULANG KE LAUT : KISAH PERSAHABATAN DAN KESETIAAN

Bab 5 – Gelora Jiwa Darah Seorang Pelaut 

Bahang matahari pagi di Melaka menyimbah dinding istana berwarna keemasan. Dari jauh, gendang istana bertalu-talu menyambut kedatangan Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu. Mereka masih muda, pakaian sederhana, tapi nama mereka sudah sampai ke telinga Bendahara, lalu terus diangkat ke hadapan Sultan.

Di hadapan singgahsana, Sultan memerhati lima pemuda itu dengan mata tajam. Hulubalang-hulubalang lama ramai yang tumbang sewaktu amukan lanun tempoh hari, namun lima anak muda kampung inilah yang berani bangkit, mempertahankan maruah Melaka hingga nyawa pembesar terselamat.

“Anak muda, siapa kamu?” suara Sultan lantang.

Tuah melangkah ke hadapan, tunduk hormat. “Patik Tuah, hamba laut, bersama sahabat patik… Jebat, Kasturi, Lekir, dan Lekiu. Kami tiada lain, hanya setia menjaga tanah air.”

Sultan tersenyum nipis. “Hamba laut, kata kamu? Tetapi darah kamu sudah menumpahkan keberanian. Mulai hari ini, kamu berlima jadi hulubalang Melaka.”

Gendang bertalu, rakyat bersorak. Namun di sudut hati, Jebat terasa ada sesuatu yang dicuri darinya. Kesetiaan pada Sultan — ya, itu amanah besar. Tetapi bagaimana dengan janji mereka di laut? Janji untuk hidup bebas, merentas ombak, menakluk cakrawala?

Malam itu, saat semua terlelap, Jebat duduk di serambi istana. Pandangannya dilempar jauh ke arah Selat Melaka yang berkilauan di bawah cahaya bulan. Ombak kecil menggamit hatinya. Dia teringat malam-malam mereka di gunung, saat Tuah berjanji pada Embun akan kembali. Mereka semua tahu, laut adalah darah dan nadi, tapi sekarang tembok istana menutup pandangan mereka.

Kasturi mendekati perlahan, duduk di sisi Jebat.
“Kau masih gelisah, sahabat?”

Jebat menghela nafas. “Aku rindukan laut, Kasturi. Aku takut… takut kita akan hanyut dalam sumpah setia yang tidak pernah kita pilih.”

Kasturi menepuk bahunya. “Kita hulubalang sekarang. Jalan ini bukan kita yang tentukan, tapi sejarah. Namun, jangan gusar… laut tak pernah lari. Selagi hati kita masih biru seperti ombaknya, kita tetap pelaut, meski berkhidmat di darat.”

Namun hati Jebat tidak semudah itu dipujuk. Dia melihat Tuah, yang makin hari makin dekat dengan Sultan. Tuah tampak benar-benar ikhlas mengabdikan diri. Itu yang mencarik jiwanya — sahabat yang sama-sama berjanji, kini makin jauh dibawa arus kesetiaan istana.

Beberapa minggu berlalu, mereka dilatih hulubalang istana. Senjata, ilmu strategi, adat istiadat — semua digarap kemas. Tuah menyerlah lebih pantas berbanding yang lain. Setiap kali beradu silat, Tuah menundukkan lawan dengan ketangkasan, bahkan menambat hati Bendahara. Sultan makin percaya padanya, malah menitahkan Tuah mengiringi utusan ke negeri jiran.

Jebat melihat semua itu dengan senyum hambar. Dalam dadanya, badai kian menggoncang. Dia tahu, persahabatan mereka masih teguh, tetapi arah yang dituju makin bercabang. Laut di hatinya memanggil, sementara darat semakin mengikat.

Suatu malam, Jebat mengikat sampan kecil di tepi pantai istana. Dia dayung perlahan, membawa dirinya ke tengah laut. Ombak menggoyang, bulan memantul di permukaan air. Di situ, dia duduk seorang diri, melepaskan segala beban. Angin malam membisik, seakan menyanyi lagu lama: janji persahabatan, janji kebebasan.

Air matanya menitis, bercampur dengan titisan laut. “Sahabat… adakah kita benar akan kekal begini? Atau lautan akan menjadi saksi, bahawa janji kita hanya mimpi yang hilang?”

Sampan itu hanyut perlahan, mengikut arus. Dan Jebat, dengan jiwa pelaut yang memberontak, tahu… badai yang lebih besar sedang menunggu di hadapan.

Monolog Jebat
Malam itu, di bawah cahaya bulan purnama yang tenang, Jebat melangkah ke bibir pantai dengan hati yang sarat luka. Ombak menghempas perlahan, seakan menyapa mesra seorang anak laut yang lama terkurung dalam tembok istana. Tangannya menolak sampan kecil, kayu usang itu seakan mengerti beban jiwa yang dibawanya.

Di saat dayung pertama menyentuh air, Jebat mendongak ke langit. Bulan bundar bersinar jernih, memantulkan wajahnya yang kusut resah. Hatinya memberontak, bukan pada sahabat yang dikasihi, tetapi pada ikatan istana yang semakin menjauhkan mereka daripada janji asal—janji kebebasan di laut terbentang luas.

Ombak yang tenang menjadi pendengar setia. Dalam bisikan angin malam, Jebat melantunkan sajaknya, meluahkan gelodak jiwa yang tiada siapa faham. Kata-kata itu terbang bersama bayu, jatuh ke permukaan air, lalu tenggelam ke dasar samudera.

“Tuah... sahabatku... mengapa engkau memilih tahta, sedang aku memilih laut?” bisiknya perlahan.

Sampan kecil itu terus hanyut, dibawa arus tanpa tujuan. Seperti dirinya—terombang-ambing antara kesetiaan dan kebebasan, antara sahabat dan lautan.

Namun jauh di dasar hatinya, Jebat tahu: selagi ombak masih beralun, selagi bintang masih bersinar, darah pelaut yang mengalir dalam dirinya tidak akan pernah padam.

Luahan Hati Jebat Yang Kian Bergelora:
Di bibir pantai aku melangkah,
meninggalkan kota yang kian asing,
sampan kecil ini jadi peneman,
membawaku jauh ke pelukan ombak.

Bulan menunduk dari langit tinggi,
seakan mengerti gelisah di dada,
aku bukan pengkhianat sahabat,
namun jiwa ku pengkhianat istana.

Oh laut...
engkau tetap sama,
tak peduli raja, tak peduli tahta,
engkau hanya menadah segala luka,
dan menyembunyikan rahsia di dasar.

Aku hanyut...
dihela arus tanpa arah,
antara cinta persahabatan yang pudar,
dan janji kebebasan yang menggila.

Tuah, sahabat sejatiku,
engkau makin setia pada takhta,
sedang aku makin setia pada laut.
Bukankah kita pernah bersumpah?
Bukankah kita pernah berjanji?
Bahawa layar inilah mahkota kita,
bahawa ombak inilah istana kita?

Sekarang hanya aku dan bulan,
menjadi saksi pada rindu yang karam,
sampan kecil ini...
biarlah ia hanyut bersama nasibku,
ke mana pun ombak menghala,
aku tetap Jebat,
anak laut,
yang tidak pernah tahu pulang.

CHAPTER 4: DARI LAUT PULANG KE LAUT :KISAH PERSAHABATAN DAN KESETIAAN

Bab 4 – Janji di Gunung, Laut yang Memanggil

Mentari condong di ufuk barat, mewarnai langit dengan jalur keemasan, tatkala lima sahabat itu selesai menamatkan segala ilmu yang dicurahkan oleh guru tua dari Jawa. Di puncak gunung, di bawah teduhan pohon balak yang berusia ratusan tahun, mereka berdiri menghadap lembah luas, seolah-olah menghela nafas terakhir sebelum turun ke dunia yang sebenar.

“Segala yang aku miliki telah pun ku turunkan,” ujar sang guru, rambutnya putih berserakan, mata bercahaya bagai api yang redup. “Kamu berlima bukan sahaja tahu menghunus keris, tetapi tahu menahan tangan bila tiba saatnya. Ingatlah, musuh bukan sentiasa di hadapan. Kadangkala ia bersemayam dalam hati sendiri.”

Mereka tunduk, tanda hormat. Hang Tuah, yang menjadi tumpuan sejak mula, melirik sekilas ke arah Embun — anak perempuan ketua orang asli yang selama ini menyiapkan makanan, menemani dengan senyuman, dan perlahan-lahan mencuri hatinya. Senyum Embun tidak seperti orang lain, ada sesuatu yang menenangkan, seakan-akan bayu laut yang pernah membelai wajahnya di geladak kapal dahulu.

Namun Jebat, yang tajam matanya laksana mata keris, menegur perlahan sewaktu mereka berjalan pulang ke pondok.
“Tuah, jangan kau terikat di sini. Kita ini pelaut. Jiwa kita di laut, bukan di gunung. Jangan kau lupa janji awal kita berlima: menakluk samudera, bukan mengikat diri pada cinta yang akan membebat langkah.”

Tuah terdiam, hatinya berombak. Dia tahu Jebat bukan berniat menghalang, cuma mengingatkan. Cinta boleh jadi sauh, boleh juga jadi layar. Saat itu, Kasturi yang terkenal dengan lidahnya yang pandai berdiplomasi, masuk mencelah.
“Jebat, janganlah kau gusar. Cinta itu tidak selalunya belenggu. Kadang-kadang ia jadi api yang menguatkan. Biarlah Tuah dengan jalannya. Kita, sahabat, akan tetap bersama.”

Jebat hanya menggeleng, namun tidak membantah lagi. Di sudut hati, dia masih curiga, tetapi persahabatan lebih besar daripada perselisihan.

Malam terakhir di gunung itu penuh rasa pilu. Embun berdiri di tepi unggun, cahaya api menari di wajahnya. Tuah menghampiri, langkahnya berat, seolah-olah setiap tapak menambah beban pada dada.
“Embun…” suaranya perlahan, nyaris tenggelam oleh desiran malam. “Esok aku akan pergi. Laut memanggil, dan persahabatan menuntut. Tetapi suatu hari nanti… aku akan kembali. Tunggu aku di sini. Aku sendiri yang akan datang menjemputmu.”

Embun hanya mengangguk. Tiada kata lain yang keluar, hanya air mata yang bergenang dan pelukan yang hangat namun singkat, seolah-olah dunia berhenti seketika.

Keesokan harinya, mereka berlima turun dari gunung dengan langkah yang gagah. Anak-anak orang asli melambai, ketua mereka menghulur restu, dan Embun berdiri jauh di belakang, memegang janji yang tiada siapa mendengar selain mereka berdua.

Perjalanan kembali ke kampung tidak lama. Saat kaki mereka menjejak tanah asal, suara ombak yang pecah di pantai menyambut dengan gegaran rindu. Hati mereka bagai dibasuh semula — darah pelaut kembali bergelora.

Tidak lama selepas itu, mereka mengikat layar, menempuh ombak, dan berlayar ke perbatasan dunia yang belum mereka kenal. Bulan berganti, bintang menjadi petunjuk, dan jiwa mereka bebas.

Namun takdir tidak pernah tidur. Pada suatu petang, ketika mereka pulang ke kampung halaman setelah lama di laut, mereka mendapati desa bergolak. Asap hitam membumbung, jeritan bergema, dan darah membasahi tanah. Serangan mengejut menimpa, dan para hulubalang yang mengawal pembesar istana di situ ramai yang gugur, ada yang melarikan diri.

Pembesar itu hampir-hampir tewas di tangan musuh, saat keris terhunus ke dadanya. Namun derapan kaki lima sahabat itu tiba, bagaikan kilat menyambar. Dengan pantas, Tuah mematahkan serangan, Jebat menerpa bagai harimau, Kasturi menutup celah, sementara Lekir dan Lekiu menumpaskan musuh yang melata.

Pertarungan singkat itu menyelamatkan pembesar tersebut. Orang kampung yang tinggal bersorak, meski dalam tangisan.

Khabar tentang lima anak muda itu segera tersebar. Dari mulut ke mulut, dari desa ke kota, akhirnya sampai ke telinga istana Melaka. Sultan sendiri berkehendak bertemu dengan mereka — pemuda-pemuda yang bukan sahaja cekap bertarung, tetapi sanggup mempertaruhkan nyawa demi maruah tanah air.

Dan di situlah, nasib lima sahabat ini mula berubah. Laut yang memanggil masih berombak, namun arus takdir sudah menarik mereka ke pelabuhan yang lebih besar — istana.

Tuesday, 26 August 2025

CHAPTER 3 - DARI LAUT PULANG KE LAUT : CERITA KISAH PERSAHABATAN DAN KESETIAAN

Chapter 3 – Ilmu Gunung & Hati yang Bergetar

Perjalanan ke gunung bukan mudah. Lima bersaudara itu menempuh hutan tebal, menyusuri sungai deras, dan akhirnya tiba di sebuah penempatan orang asli. Rumah-rumah buluh berdiri di cerun, penuh dengan suara kanak-kanak dan bau asap kayu. Di situlah mereka disambut oleh ketua orang asli yang berwibawa, tubuhnya dihiasi tatu lama yang sarat makna.

“Kalau benar kamu mencari ilmu, duduklah di sini. Makanlah apa yang kami makan, tidur di lantai yang sama, barulah kamu faham erti hidup di rimba,” kata ketua itu sambil menepuk bahu Tuah.

Guru Jawa itu pula menanti di pondok kecil di puncak. Orang tua berwajah keras, tapi matanya penuh kebijaksanaan. Latihannya bukan sekadar ayunan parang atau langkah silat, tetapi menuntut minda dan jiwa.

Malam pertama, mereka diajar mendengar bisikan hutan. “Kalau kamu mahu jadi hulubalang, jangan hanya mendengar bunyi pedang. Dengar bunyi dedaun, dengar langkah musuh walau sejauh sepuluh tapak. Hutan ini guru yang lebih tua daripada aku,” ujar guru itu.

Hari berganti minggu, minggu bertukar bulan. Lima sahabat itu semakin tangkas — Lekir dengan kekuatan tenaganya, Lekiu dengan kelicahan gerakan, Kasturi dengan kepintaran menyusun langkah, Jebat dengan keberaniannya yang tiada takut, dan Tuah yang menonjol dengan ketenangan serta ketajaman akalnya.

Namun di sebalik latihan, hati Tuah mula digoncang sesuatu yang lain. Anak perempuan ketua orang asli — wajahnya berseri, mata redup seperti embun pagi. Dia sering membantu membawa makanan ke pondok latihan. Senyumannya sederhana, tapi cukup membuatkan dada Tuah bergelora.

“Tuah…” suara Jebat datang suatu senja, ketika mereka duduk di batu besar menghadap lembah. “Aku lihat pandanganmu tidak lagi hanya pada ilmu. Janganlah kau biarkan hatimu terikat pada anak ketua itu.”

Tuah diam. Jebat menyambung, nadanya tegas.
“Kita ini bukan orang rimba. Kita pelaut, darah kita darah laut. Kau tahu sendiri — budaya mereka dan kita jauh berbeza. Cinta begitu hanya akan membawa sengsara. Ingat, tujuan kita ke sini adalah ilmu, bukan bercinta. Laut sedang menunggu kita, bukan gunung ini.”

Kata-kata itu menikam hati Tuah, walaupun ada benarnya. Dia hanya tunduk, tidak membantah, tapi api kecil di matanya jelas.

Tanpa disedari, Kasturi mendengar perbualan itu. Malamnya, ketika mereka semua duduk mengelilingi unggun api, Kasturi perlahan bersuara, “Sahabatku Jebat, Tuah… Janganlah kerana hati yang berbeza pandangan, kita menanam retak. Cinta itu urusan jiwa, tapi persahabatan urusan darah. Kalau Tuah memilih laut, kita tetap bersamanya. Kalau hatinya terikat di gunung ini, kita juga tidak akan membiarkannya sendirian. Yang penting, jangan sampai perasaan memutuskan tali setia kita.”

Jebat memandang Kasturi lama. Api unggun memantul pada wajah mereka. Perlahan Jebat menghela nafas. “Benar kata kamu, Kasturi. Aku hanya takut Tuah lupa pada janji kita — menakluk laut, bukan hanyut di darat.”

Tuah akhirnya bersuara, suaranya tenang tapi tegas.
“Jangan gusar, Jebat. Laut tetap di dadaku. Aku belajar di gunung ini untuk menjadi lebih kuat, supaya bila kembali ke laut, kita bukan sahaja hulubalang, tapi saudara yang tak tergoyah. Soal hati biarlah aku simpan, jangan sampai memecah persaudaraan kita.”

Dan malam itu, di bawah cahaya bintang, mereka berlima mengikat janji dalam diam. Latihan di gunung akan tamat, cinta mungkin mekar atau layu, tapi persahabatan mereka mesti kekal, sekuat akar rimba yang mereka jejaki.

CHAPTER 2: DARI LAUT PULANG KE LAUT : KISAH PERSAHABATAN DAN KESETIAAN

Chapter 2 – Bermula Ilmu Persilatan Melayu - Jawa Bergabung Dengan Seni Tempur Pelaut

Angin laut masih terasa di kulit mereka ketika lima sahabat itu menjejakkan kaki ke tanah kelahiran. Rumah kayu beratap nipah yang berdiri sederhana di tepi pantai itu seakan menyambut kepulangan mereka. Dari jauh sudah kedengaran suara emak Hang Tuah, lantang membebel dalam bahasa Hokkien yang pekat,
“Lu olang pigi lamaaaa… satu surat pun tadak! Lu ingat emak makan pasir ka sini?”

Hang Jebat tersengih menahan ketawa, manakala Hang Kasturi dan Lekir cepat-cepat tunduk, maklum sudah masak dengan perangai emak Tuah. Hanya Hang Tuah yang memberanikan diri melangkah ke hadapan. Dia tahu, di balik bebelan itu ada kasih sayang yang tak pernah pudar.

“Emak… Tuah balik bawa sahabat semua. Ampun kalau banyak salah,” katanya sambil menyalami tangan ibunya.

“Cehhh, balik pun muka masih sama hitam matahari!” balas emaknya, namun matanya berkaca, seakan menahan rindu yang panjang.

Dari serambi rumah, muncul ayah Hang Tuah — seorang lelaki berusia, tegap walau rambutnya sudah banyak beruban. Wajahnya penuh wibawa, dan senyuman nipis di bibirnya segera meredakan suasana.

“Biarlah emak kamu marah, Tuah. Itu tanda dia sayang. Anak jantan mesti tahu beza marah dengan benci,” katanya tenang.

Mereka semua duduk bersila di lantai, sementara emak masih bersungut-sungut dalam Hokkien, kali ini mengenai kain basahan yang kerap hilang di jemuran. Jebat hampir pecah ketawa, tapi lekas-lekas disiku oleh Lekiu.

Ayah Tuah memandang lima anak muda itu satu persatu. “Kamu semua sudah ada ilmu laut. Kau, Tuah, warisi tangan atukmu — pelaut Hokkien yang tak pernah kalah di gelombang. Tapi laut bukan sekadar layar dan ombak. Hidup kita juga perlu senjata yang lebih halus. Senjata yang bukan hanya di tangan, tapi di hati dan akal.”

Mereka diam, tunduk mendengar.

“Ada seorang tua dari Jawa. Dia bukan sembarangan orang. Kata orang, dia pernah jadi hulubalang istana di tanah seberang, tapi memilih menyendiri di gunung bersama orang asli. Di sana, dia mengajar ilmu yang lain dari apa kamu pernah belajar. Ilmu perlawanan, ya, tapi lebih daripada itu — ilmu memahami musuh sebelum berparang, ilmu membaca angin sebelum berlayar.”

Hang Tuah meneguk nafas dalam. Kata-kata itu bagai api kecil yang menyala di dada. Dia menoleh ke arah sahabat-sahabatnya — Jebat yang bersemangat, Kasturi yang tenang, Lekir yang keras kepala, dan Lekiu yang lincah. Mereka tahu, perjalanan seterusnya bukan kecil ertinya.

“Kalau begitu, ayah… izinkan kami berlima pergi berguru dengan orang tua itu. Biar ilmu kami lengkap, bukan sekadar untuk diri, tapi untuk negeri.”

Ayahnya mengangguk perlahan. “Pergilah. Tapi ingat, ilmu tanpa adab hanya akan menjemput bencana. Jangan lupa asal usulmu, dan jangan biar persahabatanmu pecah.”

Di luar, matahari petang memantulkan sinar emas ke laut yang tenang. Lima bersaudara itu tahu, jalan mereka baru sahaja bermula — dan gunung di hadapan menanti rahsia yang lebih besar daripada ombak yang pernah mereka tawan.

Monday, 25 August 2025

DARI LAUT PULANG KE LAUT : KISAH PERSAHABATAN DAN KESETIAAN (CHAPTER 1)

Chapter 1: Laut Itu Rumah Kita

Angin laut menyapu wajah mereka dengan garang namun mesra. Ombak memukul lunas perahu kecil yang terumbang-ambing di tengah Selat, seolah-olah mahu menguji kesabaran dua anak muda yang baru mengenal dunia. Laut itu luas, biru pekat, tak bertepi. Tetapi bagi mereka, itulah rumah, itu jugalah jalan kehidupan.

“Tuah,” Jebat bersuara, sambil menegakkan layar yang hampir rebah dipukul ribut, “kau fikir laut ini ada hujungnya?”

Tuah tersenyum, matanya tajam merenung ke hadapan. “Kalau ada hujung, pastinya kita sudah sampai. Tapi lihatlah, Jebat… dari kecil kita di tepi pantai, sampai sekarang, laut ini masih sama luasnya. Tiada batas. Itulah tandanya laut ini bukan sekadar air—ia rahsia alam.”

Jebat ketawa kecil. “Dan rahsia itu, satu hari nanti, akan jadi milik kita, sahabat.”

Kedua-duanya saling berpandangan, seolah-olah ada sumpah yang tidak perlu diucapkan. Mereka tahu, walau apapun yang menanti di darat, laut inilah saksi setia mereka.

Malam itu, bulan penuh menebarkan cahaya perak di permukaan air. Perahu kecil mereka berhenti di sebuah pulau terpencil, tempat nelayan tua berehat. Seorang pakcik beruban menyambut mereka dengan senyum samar.

“Kamu berdua nampak seperti darah laut,” katanya, suaranya serak dimakan usia. “Tapi ingatlah, laut ini tidak kenal sahabat atau musuh. Ia hanya menguji siapa yang benar-benar berani.”

Tuah tunduk hormat, Jebat sekadar mengangguk sambil mengerat tali layar. Selepas lelaki tua itu pergi, Jebat bersandar di batang pokok kelapa. “Aku takkan pernah tinggalkan laut, Tuah. Walau siapa pun cuba memisahkan kita darinya, aku akan kembali.”

Tuah duduk di sisinya, mengambil pasir halus dan menggenggam erat. “Aku juga begitu. Tapi dengar, Jebat. Dunia di darat sedang berubah. Raja-raja bertelingkah, pedagang asing datang membawa emas, senjata, dan tipu daya. Kalau kita hanya duduk di laut, satu hari nanti kita akan dipanggil. Kita perlu pilih—setia pada laut, atau setia pada tanah.”

Hening seketika. Ombak memukul pantai perlahan, seakan-akan mendengar bicara mereka.

“Kalau begitu,” Jebat berkata perlahan, “kita bersumpah hari ini. Dari laut kita datang, ke laut kita kembali. Kalau tanah itu memanggil, kita akan pergi. Tapi jika tanah itu mengkhianati, laut inilah yang akan menyambut kita pulang.”

Tuah menghulurkan tangan, Jebat menyambutnya dengan genggaman erat. Dua anak muda itu, tanpa sedar, baru sahaja memeterai janji yang akan mengikat nasib mereka selamanya.

Bulan menyinari wajah mereka. Angin laut membawa sumpah itu ke tengah gelombang, jauh ke pelusuk dunia.

Laut menjadi saksi—bahawa dua nama ini, Hang Tuah dan Hang Jebat, bukan sekadar anak kampung. Mereka adalah darah laut, saudara sehidup semati, yang takdirnya kelak akan menggegarkan istana dan mencorakkan legenda.


DARI LAUT PULANG KE LAUT : KISAH PERSAHABATAN DAN KESETIAAN (shortnovel) PROLOG

Prolog

> Dalam kabus tebal yang menyelubungi laut Selat Melaka, ada cerita yang tidak pernah padam.

Kata orang tua-tua, sejarah itu bukan sekadar tercatat di lembaran kertas, tetapi bernafas di antara ombak, bayang malam, dan doa para raja. Ada yang mengatakan, segala kisah Hang Tuah dan Hang Jebat telah pun berakhir ratusan tahun dahulu — namun ada pula yang bersumpah, roh mereka masih berkelana, menjaga rahsia yang tidak pernah dibuka sepenuhnya.

Di antara cerita tentang keris Taming Sari yang hilang ke dasar sungai, hingga kisah Sultan pertama Perak yang dihanyut badai, semua itu seperti helai-helai benang yang belum disulam sempurna. Ada bahagian yang ditulis, ada yang dipadam, ada pula yang hanya berbisik dalam mimpi.

Dan di laut yang sama, malam demi malam, nelayan masih mengaku terlihat sebuah kapal hitam berbalut kabus. Di geladaknya, berdiri dua susuk: seorang berjubah hitam dengan mata setajam badai, seorang lagi berpakaian putih membawa keris berkilau emas.

Mereka tidak pernah berkata-kata.
Mereka hanya menunggu.

Kerana setiap tamadun, setiap darah raja yang naik, akan diuji semula.

Dan ketika Taming Sari muncul kembali, di situlah bermula semula kisah yang dunia sangkakan sudah lama tamat.

Monday, 28 April 2025

BILA DAH TERLALU BANYAK, KITA JADI MUAK

Patutlah masa angah cuba cuba berasap dulu, abah ugut dia... "Jangan sampai abah paksa kau hisap rokok berkotak kotak sampai muntah"

Jadi beginilah cerita aku
BILA DAH TERLALU BANYAK DEPAN MATA, TERLALU SELALU MENGHADAP BENDA YANG SAMA ENGKAU JADI AUTOMATIK TIDAK MAHU

Betullah kata orang tua - tua jika engkau terlampau suka makan ayam, jika hari hari engkau makan ayam... Mesti lama lama engkau menyampahkan, Haah aku bercerita mengenai diri sendiri...

Seperti yang aku pernah cerita di post yang entah mana satu, di kala aku menutup hati aku untuk manusia bernama lelaki, hadir pula seorang yang aku cuba letakkan harapan... Di kala dia menghancurkan hati aku sekali lagi, menjahanamkan segala usaha aku untuk kembali berharap... Aku mula menyoal diri sendiri, mencari setiap salah di dalam setiap segi, tangisan mengiringi malam malam ku. Diri ku hancur, semangat ku hilang... Dan dalam masa yang sama aku cuba berdiri, senyum cuba menghadapi hidup ini... Aku mula menerima takdir yang melayan aku seperti ini dan aku salahkan semuanya ke atas diri ku. 

Tidak lama hadir seorang demi seorang, orang yang pernah aku sayang... Samaada telah mendirikan rumah tangga atau pun kembali bujang... Namun sesayang aku kepada mereka... Aku masih rasa sedihnya dan aku bertanyakan kenapa mereka ada di sini dan kembali mahukan perhatian ku, aku rasa seperti orang bodoh atau tempat singgah... Tempat yang engkau tidak akan ingat pun tak penting pun... 

Aku sering berdoa, dan mengharapkan jawapan, mungkin aku salah, mungkin aku betul dan jawapannya ialah AKU TAK PERNAH LULUS PUN UJIAN YANG ALLAH BERIKAN... Jadi di berikan kepada ku berulang ulang kali... Sehingga satu tahu aku sendiri muak dengan jalan cerita yang sama, pickup line yang sama, modus operandi yang sama... Dan akhirnya jadilah aku harini... Ia tahun ini aku rase malas betul nak tengok handphone, malas betul nak tengok watsap... Malas aku hendak berkomunikasi dengan dunia 

Hmmmmmm apa yang aku hendak sampaikan ialah, jika anda berulang ulang kali menghadapi perkara yang sama, ujian hidup yang sama... Cuma menghadapinya dengan cara yang berbeza, dengan cara yang lebih mendekatkan diri dengan ALLAH... Yang engkau akan fikir INILAH JAWAPAN YANG ALLAH hendak aku buat... 

Mungkin pada saat ini, aku tak fikir rezeki aku untuk berdua, bertiga, ber berapa skali pun... Aku redha seadaannya dan mungkin juga ALLAH memakbulkan doa doa kan yang dulu... Itulah sebabnya aku di sini begini 😊 yang pastinya janganlah memandang sesuatu perkara yang ALLAH berikan kepada kita itu sesuatu yang negetif....

Sekian sahaja perkongsian yang tidak mendatangkan keuntungan untuk anda baca.. 😅 

JANJI YANG TAK TERUCAP : AISENAI AISHITAI OUTRO 3

DUNIA DI BALIK HIJAB ELINA ​ POV ELINA: "Aku ada lima orang adik-beradik. Tiga perempuan, dua lelaki. Semuanya dah berkahwin dan ting...