CHAPTER 5 - DARI LAUT PULANG KE LAUT : KISAH PERSAHABATAN DAN KESETIAAN
Bab 5 – Gelora Jiwa Darah Seorang Pelaut
Bahang matahari pagi di Melaka menyimbah dinding istana berwarna keemasan. Dari jauh, gendang istana bertalu-talu menyambut kedatangan Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu. Mereka masih muda, pakaian sederhana, tapi nama mereka sudah sampai ke telinga Bendahara, lalu terus diangkat ke hadapan Sultan.
Di hadapan singgahsana, Sultan memerhati lima pemuda itu dengan mata tajam. Hulubalang-hulubalang lama ramai yang tumbang sewaktu amukan lanun tempoh hari, namun lima anak muda kampung inilah yang berani bangkit, mempertahankan maruah Melaka hingga nyawa pembesar terselamat.
“Anak muda, siapa kamu?” suara Sultan lantang.
Tuah melangkah ke hadapan, tunduk hormat. “Patik Tuah, hamba laut, bersama sahabat patik… Jebat, Kasturi, Lekir, dan Lekiu. Kami tiada lain, hanya setia menjaga tanah air.”
Sultan tersenyum nipis. “Hamba laut, kata kamu? Tetapi darah kamu sudah menumpahkan keberanian. Mulai hari ini, kamu berlima jadi hulubalang Melaka.”
Gendang bertalu, rakyat bersorak. Namun di sudut hati, Jebat terasa ada sesuatu yang dicuri darinya. Kesetiaan pada Sultan — ya, itu amanah besar. Tetapi bagaimana dengan janji mereka di laut? Janji untuk hidup bebas, merentas ombak, menakluk cakrawala?
Malam itu, saat semua terlelap, Jebat duduk di serambi istana. Pandangannya dilempar jauh ke arah Selat Melaka yang berkilauan di bawah cahaya bulan. Ombak kecil menggamit hatinya. Dia teringat malam-malam mereka di gunung, saat Tuah berjanji pada Embun akan kembali. Mereka semua tahu, laut adalah darah dan nadi, tapi sekarang tembok istana menutup pandangan mereka.
Kasturi mendekati perlahan, duduk di sisi Jebat.
“Kau masih gelisah, sahabat?”
Jebat menghela nafas. “Aku rindukan laut, Kasturi. Aku takut… takut kita akan hanyut dalam sumpah setia yang tidak pernah kita pilih.”
Kasturi menepuk bahunya. “Kita hulubalang sekarang. Jalan ini bukan kita yang tentukan, tapi sejarah. Namun, jangan gusar… laut tak pernah lari. Selagi hati kita masih biru seperti ombaknya, kita tetap pelaut, meski berkhidmat di darat.”
Namun hati Jebat tidak semudah itu dipujuk. Dia melihat Tuah, yang makin hari makin dekat dengan Sultan. Tuah tampak benar-benar ikhlas mengabdikan diri. Itu yang mencarik jiwanya — sahabat yang sama-sama berjanji, kini makin jauh dibawa arus kesetiaan istana.
Beberapa minggu berlalu, mereka dilatih hulubalang istana. Senjata, ilmu strategi, adat istiadat — semua digarap kemas. Tuah menyerlah lebih pantas berbanding yang lain. Setiap kali beradu silat, Tuah menundukkan lawan dengan ketangkasan, bahkan menambat hati Bendahara. Sultan makin percaya padanya, malah menitahkan Tuah mengiringi utusan ke negeri jiran.
Jebat melihat semua itu dengan senyum hambar. Dalam dadanya, badai kian menggoncang. Dia tahu, persahabatan mereka masih teguh, tetapi arah yang dituju makin bercabang. Laut di hatinya memanggil, sementara darat semakin mengikat.
Suatu malam, Jebat mengikat sampan kecil di tepi pantai istana. Dia dayung perlahan, membawa dirinya ke tengah laut. Ombak menggoyang, bulan memantul di permukaan air. Di situ, dia duduk seorang diri, melepaskan segala beban. Angin malam membisik, seakan menyanyi lagu lama: janji persahabatan, janji kebebasan.
Air matanya menitis, bercampur dengan titisan laut. “Sahabat… adakah kita benar akan kekal begini? Atau lautan akan menjadi saksi, bahawa janji kita hanya mimpi yang hilang?”
Sampan itu hanyut perlahan, mengikut arus. Dan Jebat, dengan jiwa pelaut yang memberontak, tahu… badai yang lebih besar sedang menunggu di hadapan.
Monolog Jebat
Malam itu, di bawah cahaya bulan purnama yang tenang, Jebat melangkah ke bibir pantai dengan hati yang sarat luka. Ombak menghempas perlahan, seakan menyapa mesra seorang anak laut yang lama terkurung dalam tembok istana. Tangannya menolak sampan kecil, kayu usang itu seakan mengerti beban jiwa yang dibawanya.
Di saat dayung pertama menyentuh air, Jebat mendongak ke langit. Bulan bundar bersinar jernih, memantulkan wajahnya yang kusut resah. Hatinya memberontak, bukan pada sahabat yang dikasihi, tetapi pada ikatan istana yang semakin menjauhkan mereka daripada janji asal—janji kebebasan di laut terbentang luas.
Ombak yang tenang menjadi pendengar setia. Dalam bisikan angin malam, Jebat melantunkan sajaknya, meluahkan gelodak jiwa yang tiada siapa faham. Kata-kata itu terbang bersama bayu, jatuh ke permukaan air, lalu tenggelam ke dasar samudera.
“Tuah... sahabatku... mengapa engkau memilih tahta, sedang aku memilih laut?” bisiknya perlahan.
Sampan kecil itu terus hanyut, dibawa arus tanpa tujuan. Seperti dirinya—terombang-ambing antara kesetiaan dan kebebasan, antara sahabat dan lautan.
Namun jauh di dasar hatinya, Jebat tahu: selagi ombak masih beralun, selagi bintang masih bersinar, darah pelaut yang mengalir dalam dirinya tidak akan pernah padam.
Luahan Hati Jebat Yang Kian Bergelora:
Di bibir pantai aku melangkah,
meninggalkan kota yang kian asing,
sampan kecil ini jadi peneman,
membawaku jauh ke pelukan ombak.
Bulan menunduk dari langit tinggi,
seakan mengerti gelisah di dada,
aku bukan pengkhianat sahabat,
namun jiwa ku pengkhianat istana.
Oh laut...
engkau tetap sama,
tak peduli raja, tak peduli tahta,
engkau hanya menadah segala luka,
dan menyembunyikan rahsia di dasar.
Aku hanyut...
dihela arus tanpa arah,
antara cinta persahabatan yang pudar,
dan janji kebebasan yang menggila.
Tuah, sahabat sejatiku,
engkau makin setia pada takhta,
sedang aku makin setia pada laut.
Bukankah kita pernah bersumpah?
Bukankah kita pernah berjanji?
Bahawa layar inilah mahkota kita,
bahawa ombak inilah istana kita?
Sekarang hanya aku dan bulan,
menjadi saksi pada rindu yang karam,
sampan kecil ini...
biarlah ia hanyut bersama nasibku,
ke mana pun ombak menghala,
aku tetap Jebat,
anak laut,
yang tidak pernah tahu pulang.
Comments
Post a Comment