CHAPTER 4: DARI LAUT PULANG KE LAUT :KISAH PERSAHABATAN DAN KESETIAAN
Bab 4 – Janji di Gunung, Laut yang Memanggil
Mentari condong di ufuk barat, mewarnai langit dengan jalur keemasan, tatkala lima sahabat itu selesai menamatkan segala ilmu yang dicurahkan oleh guru tua dari Jawa. Di puncak gunung, di bawah teduhan pohon balak yang berusia ratusan tahun, mereka berdiri menghadap lembah luas, seolah-olah menghela nafas terakhir sebelum turun ke dunia yang sebenar.
“Segala yang aku miliki telah pun ku turunkan,” ujar sang guru, rambutnya putih berserakan, mata bercahaya bagai api yang redup. “Kamu berlima bukan sahaja tahu menghunus keris, tetapi tahu menahan tangan bila tiba saatnya. Ingatlah, musuh bukan sentiasa di hadapan. Kadangkala ia bersemayam dalam hati sendiri.”
Mereka tunduk, tanda hormat. Hang Tuah, yang menjadi tumpuan sejak mula, melirik sekilas ke arah Embun — anak perempuan ketua orang asli yang selama ini menyiapkan makanan, menemani dengan senyuman, dan perlahan-lahan mencuri hatinya. Senyum Embun tidak seperti orang lain, ada sesuatu yang menenangkan, seakan-akan bayu laut yang pernah membelai wajahnya di geladak kapal dahulu.
Namun Jebat, yang tajam matanya laksana mata keris, menegur perlahan sewaktu mereka berjalan pulang ke pondok.
“Tuah, jangan kau terikat di sini. Kita ini pelaut. Jiwa kita di laut, bukan di gunung. Jangan kau lupa janji awal kita berlima: menakluk samudera, bukan mengikat diri pada cinta yang akan membebat langkah.”
Tuah terdiam, hatinya berombak. Dia tahu Jebat bukan berniat menghalang, cuma mengingatkan. Cinta boleh jadi sauh, boleh juga jadi layar. Saat itu, Kasturi yang terkenal dengan lidahnya yang pandai berdiplomasi, masuk mencelah.
“Jebat, janganlah kau gusar. Cinta itu tidak selalunya belenggu. Kadang-kadang ia jadi api yang menguatkan. Biarlah Tuah dengan jalannya. Kita, sahabat, akan tetap bersama.”
Jebat hanya menggeleng, namun tidak membantah lagi. Di sudut hati, dia masih curiga, tetapi persahabatan lebih besar daripada perselisihan.
Malam terakhir di gunung itu penuh rasa pilu. Embun berdiri di tepi unggun, cahaya api menari di wajahnya. Tuah menghampiri, langkahnya berat, seolah-olah setiap tapak menambah beban pada dada.
“Embun…” suaranya perlahan, nyaris tenggelam oleh desiran malam. “Esok aku akan pergi. Laut memanggil, dan persahabatan menuntut. Tetapi suatu hari nanti… aku akan kembali. Tunggu aku di sini. Aku sendiri yang akan datang menjemputmu.”
Embun hanya mengangguk. Tiada kata lain yang keluar, hanya air mata yang bergenang dan pelukan yang hangat namun singkat, seolah-olah dunia berhenti seketika.
Keesokan harinya, mereka berlima turun dari gunung dengan langkah yang gagah. Anak-anak orang asli melambai, ketua mereka menghulur restu, dan Embun berdiri jauh di belakang, memegang janji yang tiada siapa mendengar selain mereka berdua.
Perjalanan kembali ke kampung tidak lama. Saat kaki mereka menjejak tanah asal, suara ombak yang pecah di pantai menyambut dengan gegaran rindu. Hati mereka bagai dibasuh semula — darah pelaut kembali bergelora.
Tidak lama selepas itu, mereka mengikat layar, menempuh ombak, dan berlayar ke perbatasan dunia yang belum mereka kenal. Bulan berganti, bintang menjadi petunjuk, dan jiwa mereka bebas.
Namun takdir tidak pernah tidur. Pada suatu petang, ketika mereka pulang ke kampung halaman setelah lama di laut, mereka mendapati desa bergolak. Asap hitam membumbung, jeritan bergema, dan darah membasahi tanah. Serangan mengejut menimpa, dan para hulubalang yang mengawal pembesar istana di situ ramai yang gugur, ada yang melarikan diri.
Pembesar itu hampir-hampir tewas di tangan musuh, saat keris terhunus ke dadanya. Namun derapan kaki lima sahabat itu tiba, bagaikan kilat menyambar. Dengan pantas, Tuah mematahkan serangan, Jebat menerpa bagai harimau, Kasturi menutup celah, sementara Lekir dan Lekiu menumpaskan musuh yang melata.
Pertarungan singkat itu menyelamatkan pembesar tersebut. Orang kampung yang tinggal bersorak, meski dalam tangisan.
Khabar tentang lima anak muda itu segera tersebar. Dari mulut ke mulut, dari desa ke kota, akhirnya sampai ke telinga istana Melaka. Sultan sendiri berkehendak bertemu dengan mereka — pemuda-pemuda yang bukan sahaja cekap bertarung, tetapi sanggup mempertaruhkan nyawa demi maruah tanah air.
Dan di situlah, nasib lima sahabat ini mula berubah. Laut yang memanggil masih berombak, namun arus takdir sudah menarik mereka ke pelabuhan yang lebih besar — istana.
Comments
Post a Comment